Selasa, 18 Februari 2020

laporan percobaan 2

                                        
LAPORAN PRATIKUM
KIMIA ORGANIK I

  
DISUSUN OLEH:
PAULINA ERIKA MANURUNG
A1C118062
DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020

               

VII. Tujuan Pengamatan
  • untuk mengetahui prinsip-prinsip dasar dalam menentukan titik leleh senyawa murni
  • untuk melakukan kalibrasi termometer sebelum digunaka untuk menentukan tititk leleh suatu senyawa murni 
  • untuk membedahkan titik leleh suatu senyawa murni dengan senyawa yang tidak murni
untuk menentukan penentuan titik leleh suatu senyawa murni yang diberikan sebagai sampel

VIII. Prosedur kerja
                   untuk prosedur percobaan dapat dilihat pada :  https://paulinaerika.blogspot.com/?m=1


IX. Data pengamatan
9.1 Kalibrasi termometer
No
langkah kerja
Hasil pengamatan
1
masukkan termometer kedalam labu elemeyer yang telah diisi dengan air dan serbuk batu es yang mana labu elemeyer telah disumbat terlebih dahulu dengan penyumbat agar terisolasi
Skala termometer turun hingga 0 serajat
2
masukan aquades kedalam labu elemeyer yang telah disumbat lalu dipanaskan
Suhu awal 95C hingga suhu tetap 97 C

9.2 Penentuan titik leleh
NO

Nama senyawa
Titik leleh
pelarut
Mulai
tepat
1
Naftalen
78C
84C
Minyak
2
Glukosa
120C
140C
Minyak
3
Beta naftol
105C
115C
Minyak
4
Asam benzoat
98C
150C
Minyak
5
Maltosa
105C
107C
Minyak

Penentuan titik leleh campuran
No
Campuran 2 senyawa
Titik leleh (°c)
1:1
1:3
3:1
Mulai
tepat
mulai
tepat
mulai
tepat
1
Naftalen- glukosa
100 C
148C
148C
155C
130C
146C
2
Beta naftol – asam benzoat
88 C
92C
90C
103C
85C
120C
3
Glukosa –beta naftol
130 C
140C
146C
150C
138C
149C
4
Asam benzoat-maltosa
110C
120C
100C
155C
97C
135C
5
Maltosa-naftalen
120C
122C
110C
114C
113C
115C




9.3 Demonstrasi titik leleh dengan MPA (melting point apparatus)
NO

Nama senyawa
Titik leleh
tepat
1
Naftalen
85C
100◦C
2
Glukosa
160,22C
180C
3
Beta naftol
110◦C
115◦C
4
Asam benzoat
115◦C
120◦C
5
Maltosa
90◦C
102◦C


X.pembahasan
    zat padat memiliki molekul-molekul berbentuk kisi-kisi yang teratur dan diikat dengan gaya gravitasi dan elektrostatik. Bila suatu zat dipanaskan energi kinetik dari molekul-molekul tersebut  akan naik.Titik leleh senyawa murni ialah  temperatur dalam fase padan dan pada fase cair senyawa akan berada dalam kesetimbangan dengan tekanan 1 atm. Kalor dibutuhkan untuk transisi dari bentuk kristal,pemecahan kisi kristal hingga selurunya berbentuk cair. titik leleh suatu senyawa murni dapat ditentukan dari pengamatan trayek leleh, dimulai pada saat terjadi pelelehan,transisi padat cair,higga semua kristal  mencair ( Tim penuntun kimia organik 1,2020)

10.1. kalibrasi termometer
 
Percobaan ini dilakukan kalibrasi termometer. Dimana dilakukan bertujuan untuk memeriksa layak atau tidak termometer digunakan dan sudah atau belum memenuhi standarnya. Termometer digunakan sebagai alat pengukur suhu. Langkah awal yang kami lakukan pada percobaan ini ialah dengan memasukan termometer sampai ujung nya menyentuh es dan air kedalam labu erlemeyer, lalu selanjutnya erlemeyer tersebut disumbat dengan rapat dengan menggunakan gabus. Penyumbatan dilakukan supaya campuran terisolasi dengan sempurna dan tidak terkontaminasi dengan lingkungan .Berdasakan hasil pengamatan yang kami dapatkan, kami mendapatkan hasil termometer bersekala 0  derajat C dan 97 derajat C.
10.2 Penentuan titik lele
Pada percobaan ini dilakukan pengamatan terhadap titik lele murni senyawa dengan 5  sampel yaitu asam benzoat,naftalen maltosa,glukosa dan betha-naftol. langkah awal yang dilakukan ialah menentukan menentukan titih leleg glukosa dengan memakai pelarut minyak.memkai minya karena titik didih minya lebih tinggi dibandingkan dengan air. hasil yang kami dapatkan ialah titik leleh naftalen mulai meleleh 78 derajat C titik akhir 84 derajat C. titik leleh glukosa muulai melele 120 derajat C titik akhir 140 derajat C.lalu asam benzoal mulai melelh 150 derajat C mulai meleh 105 derajat C titik akhir 107 derajat C. Titik leleh glukosa pada saat mulai melelh 120 derajat C titik akhir 140 derajat C dan meleh 78 derajat C. Jadi yang paling cepat meleh ialah naftalen.

 Selanjutnya melakukan penentuan titik leleh dengan mencampurkan senyawa dengan senyawa lain dengan 3 perbandingan yaitu 1:3,3:1 dan 1: 1.langkah awal yang dilakukan ialah dengan mencampurkan naftalen  dan glukosa dan mendapatkan hasil 1:1 mulai meleleh pada saat 100 derajat C dengan titik akhir 148 derajat C. Selanjutnya 1:3 kami mendapatkan mulai meleleh 148 derajat C dengan titik akhir 155  derajat C, lalu 3:1 mulai melelh 130 derajat C  dan titik akhir 146 derajat C. campur betha naftol  dengan asam benzoat dengan mendapatkan hasil 1:1 mulai meleleh 88 derajat C titik akhir meleleh 92 Cderajat, 1:3 mulai meleleh 90 derajat C titik akhir meleleh 103derajatC, 3:1 mulai meleleh 85derajat C titik akhir meleleh 120derajatC. Selanjutnya  mencampur glukosa dan betha naftol dengan mendapatkan  hasil 1:1 mulai meleleh 130derjat C titik akhir meleleh 140 derajatC, 1:3 mulai meleleh 146derajatC titik akhir meleleh 150derajatC, 3:1 mulai meleleh 138 derajat C titik akhir meleleh 149derajat C lalu kami mencampurkan asam benzoat dan maltosa dengan mendapatkan  hasil 1:1 mulai meleleh 110 derajat C titik akhir meleleh 120 derajat C, 1:3 mulai meleleh 100derajat C titik akhir meleleh 155 Cderajat , 3:1 mulai meleleh 97derajat C titik akhir meleleh 135. Cderajat Setelah itu  mencampur maltosa dan naftalen dengan mendapatkan  hasil 1:1 mulai meleleh 120 Cderajat  titik akhir meleleh 122 Cderajat , 1:3 mulai meleleh 110 Cderjaat  titik akhir meleleh 114derjat C, 3:1 mulai meleleh 113 Cderajat  titik akhir meleleh 114 derjat C.


10.3 Demonstrasi titik leleh dengan MPA (melting point apparatus)

Pada percobaan ini kami menggunakan alat  melting point apparatus untuk mengukur titik leleh suatu zat. Pada percobaan ini kami menggunakan 5 sampel dan mendapatkan hasil pada naftalen mula 85 derajat C dan tepat100 derajat C  pada glukosa mendapatkan hasil mula 160,22 derajat C dan tepat nya 180 derajat C pada Beta naftol tepat 115 derajat C dan tepat nya 180 derajat C pada asam benzoat mula 115 derajat Cdan tepat nya 120 derajat C dan pada maltosa mula 90 derajat C dan tepat nya 102 derajat C


XI. Pertanyaan pasca
1. Mengapa pada saat larutan dipanaskan erlenmeyen harus disumbat dengan gabus ?
2. apa  yang daat menyebabkan hasil dari pengujian secara aktual dsn dengan MPA mendapatkan hasil yang berbeda?
3.  apa yang diperhataikan pada saat melakukan pengkalibrasian termometer?

XII. Manfaat
    Dengan melakukan pratikum ini dapat menggunakan pemakaian alat MPA dan dapat  mengatahui cara mengkalibrasi termometer dengan benar

XIII.kesimpulan
1. kalibrasi yang dilakukan terhadap termometer mempunyai perbedaan skala batas bawah
2. faktor yang dapat mempengaruhi selisi titik leleh adalah zat dan kekuatan alat yang digunakan
3. titik leleh ialah fase padat dan fase cair dalam keadaan yang setimbang  dibawah tekananan 1 atm
4. Dalam menentukan titik lele dapat menggunakan 2 cara yaitu dengan cara manual dan menggunakan alat MPA.

XIV.
   Dengan melakukan pratikum ini dapat menggunakan pemakaian alat MPA dan dapat  mengatahui cara mengkalibrasi termometer dengan benar
   Dengan melakukan pratikum ini dapat menggunakan pemakaian alat MPA dan dapat  mengatahui cara mengkalibrasi termometer dengan benar

XV. Daftar pustaka
  • http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70
  •  Oxtoby.2014. Prinsip-prinsip kimia modern.Jakarta: Erlangga
  • Rahmat.2015.Sistem Kalibrasi Termometer Infrared untuk Rentang 50 C- 500 C.Vol.3,No.1.
  • Tim  Penuntun Kimia organik 1. 2020. Penuntun Pratikum Kimia Organik 1 . jambi : Universitas Jambi .
   Vidio padat dilihat https://youtu.be/RDEhGPyi91o
XIV. Lampiran gambar


                                             gambar 14.1. pengujian asam benzoat

gambar 14.2. kalibrasi Termometer dengan Es batu
dan air murni dan sumbatan

gambar 14.3. alat yang digunakan untuk penentuan
 titik leleh campuran



                                                  gambar 14.4 pengujian titk leleh asam benzoat



                                                        gambar 14.5.kalibrasi termometer dean es batu dan
                                                                        air murni

    Selasa, 11 Februari 2020

    jurnal percobaan 2

    JURNAL PRAKTIKUM
    KIMIA ORGANIK I




    DISUSUN OLEH:
    PAULINA ERIKA MANURUNG
    A1C118062


    DOSEN PENGAMPU
    Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.



    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
    JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
    UNIVERSITAS JAMBI
    2020





    PERCOBAAN 2


    I.     Judul            : Kalibrasi Termometer dan Penentuan Titik leleh
    II.   Hari/tanggal :  Rabu, 12 febuari 2020
    III. Tujuan           : 
    adapun tujuan dari pratikum ini ialah:
    1. Dapat mengetahui prinsip-prinsip dasar dalam penentuan titik leleh senyawa murni
    2. Dapat melakukan kalibrasi termometer sebelum digunakan untuk penentuan titik leleh suatu senyawa murni
    3. Dapat membedahkan titik leleh suatu senyawa murni dengan senyawa yang tidak murni
    4. Dapat melakukan penentuan titik leleh suatu senyawa murni yang diberikan sebagai sampel

    IV. Landasan Teori
      Titik senyawa murni ialah fase  padat dan fase cair senyawa tertentu yang memiliki temperatur yang berda dalam kesetimbangan memiliki tekanan 1 atm. Kalor dibutuhkan untuk transisi dalam pembentukan kristal dan memecahkan kisi kristal hingga keseluruhannya berbebtuk cair. Untuk melewati proses pelelehan pada kesetimbangan membutuhkan waktu dan terjadi sedikit perubahan suhu. Oleh karena itu semakin murni senyawa maka temperatur lelehnya semakin sempit,dan tidak akan melebihi dari 1 derajat ( Tim Kimia organik 1,2020).
        Termometer digunakan untuk mengukur suhu dalam kondisi dingin, panas ,normal dari suatu benda dalam bentuk cair ,padat ,uap yang dapat meneliti ketepatan dalam pengukurannya. Dalam memurnikan suatu zat padat dari campurannya membutuhkan tekni khusus dan pendekatan. Pendekatan yang dimaksud dengan cara mengenal zat padat yang ingin dimurnikan,mengetahui sifat fisik dan sifat kimianya  http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70
      Cepat atau lambat nya suatu zat leleh dikarenakan dipengaruhi oleh berbagai faktor ialah ;1. dari ukuran kristal ,semakin besar ukuran partikel yang akan di gunakan maka akan semakin sulit suatu zat tersebut dapat meleleh.2. Lalu banyak sampel yang digunakan, jika terdapat sedikit zat yang dilelehkan makan akan semkin cepat lelehan tersebut  terjadi.3. jika zat yang akan dilelehkan banyak,maka pelelehan tersebut akan memerlukan waktu yg lama (Oxtoby,2014)
      Setiap  atom mempunyai 1 elektron,jika jari-jarinya semkakin besar maka  atomnya akan semkin melemah. Jadi  dalam suatu golongan titik leleh akan semakin berkurang dari atas ke bawah.  Sedangkan pada gaya Van der walls pada suatu unsur halogen dalam keadaan berwujud padat berupa kristal terikat yang lemah. Jari-jari akan bertambah besar dan mengakibatkan gaya pada van der walls akan bertambah juga ( Rahmat,2014).
          Suhu saat  berwujud padat dan cair sama-sama pada keadaan yang setimbang dapat dinyatakan sebagai titik leleh suatu zat. Titik leleh Zat padat yaitu jika  suhu suatu zat akan berubah menjadi cair.  Massa  pada molekul zat dan bentuk simetris moleh akan berpengaruh pada titik leleh, tetapi ikatan hidrogen tidak berpengaruh terhadap tititk leleh  karena disebabkan oleh jaran antara molekul berdekatan pada saat berwujud padat ( Anonymous,2009)

    V. Alat dan Bahan
      5.1 Alat
       1. Labu erlenmeyer 250 ml
       2  Termometer
       3. Pipa gelas kapiler
       4. Gabus
       5. Benang
       6. Bunsen
       7. MPA (Melting Point Apparatus)
    5.2 Bahan
       1. Bubuk es dan air
       2. Sampel zat murni (naftalen, glukosa, alpha-naftol, asam benzoat, dan maltosa)
       3. Aquades
       4. Oil bath atau water bath
    VI. Prosedur kerja
    6.1 Kalibrasi Termometer
    a. buat campuran bubuk es dan air ke dalam labu erlenmeyer 250 ml sehingga 2/5 bagian volume yang terisi.
    b. masukkan termometer sampai  ujungnya menyentuh campuran es + air, sumbat mulut labu erlenmeyer dengan gabus, sampai  campuran terisolasi dari udara luar.
    c. catat batas bawah skala termometer tersebut (0).
    d. angkat termometer dan diulangi kembali  prosedur a-c.
    e.irancang kembali alat dengan mengisi 2/5 dari  bagian erlenmeyer dengan aquades.
    f. Dimasukkan termometer sampai  pada 1 cm diatas permukaan air, disumbat dan usahakan termometer berada pada posisi tegak/vertikal.
    g. Dilakukan pemanasan dan catat suhu saat air mulai mendidih dan suhu konstan.
    h.ulangi prosedur c-g sekali lagi.

    6.2 Penentuan Titik Leleh
    a. ambil pipa gelas kapiler, setelah itu bakar ujung sehingga tertutup.
    b. masukkan sampel zat murni atau campuran dari ujung lainnya. setelah itu padatkan dengan bantuan stick yang berlobang tengahnya. Tinggi sampel dalam pipa kapiler tidak lebih dari 2 mm.
    c. Kemudian pipa kapiler yang sudah berisi sampel tersebut di ikatkan dengan termometer menggunakan benang (bagian ujung bawah termometer).
    d. Dimasukkan alat tersebut kedalam erlenmeyer yang telah diisi air atau minyak (tergantung tinggi TL zat tersebut) dengan mengisi 2/3 erlenmeyer dan disumbat dengan gabus mulut erlenmeyer.
    e. panaskan perangkat alat ini dengan perlahan dan catat suhu pada saat zat meleleh sampai  semua zat meleleh.
    f. lakukan prosedur a-e sebanyak 2 kali untuk setiap  sampel yang diberikan. Sampel murni terdiri dari naftalen, glukosa, alpha-naftol, asam benzoat, dan maltosa.
    g. Dengan cara yang sama ditentukan titik leleh campuran dua senyawa dengan proporsi 1:1, 1:3, dan 3:1. gambarkan titik autentik yang diperoleh. Untuk hasil yang baik, gambar titik autentik pada kertas milimeter block (kertas grafik).

    6.3 Demonstrasi Titik Leleh dengan MPA (Melting Point Apparatus)
    a. tempatkan sampel yang akan ditentukan titik lelehnya pada pipa gelas kapiler setebal lebih kurang 2 mm.
    b. Pia kapiler akan tempatkan pada bagian atas.
    c. Terdapat 3 lubang yang diameternya 3 mm, lubang tengah untuk pipa kapiler yang berisi sampel dan lubang lain di isi dengan pipa kapiler kosong (blanko).
    d. Alat dihubungkan dengan tombol listrik dan on-kan.
    e. Variabel suhu dapat diatur dengan tombol agar naik secara kostan dengan kecepatan tertentu.
    f. Dilakukan pengamatan dari lubang kecil di sisi depan alat ini.
    g. Diperhatikan variabel suhu saat zat mulai meleleh.


       vidio dapat dilihat https://youtu.be/GQTmIzdfpXg
    Pertanyaan
    1. mengapa harus digunakan pipa  kapiler yang ujung terbuka dan ujung tertutup?
    2. mengapa  pada saat memperecepat titik leleh suhu harus dinaikan 10 derajat dari titik lele dari senyawa?
    3. apa yang dimaksud dengan metode tempring?



    Selasa, 04 Februari 2020

    laporan pratikum percobaan 1 analisis kualitatif unsur-unsur zat organik dan penentuan kelas larutan

    LAPORAN PRATIKUM
    KIMIA ORGANIK I




      





    DISUSUN OLEH:
    PAULINA ERIKA MANURUNG
    A1C118062



    DOSEN PENGAMPU
    Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.




    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
    JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
    UNIVERSITAS JAMBI
    2020


                       untuk prosedur percobaan dapat dilihat pada :  https://paulinaerika.blogspot.com/?m=1

    VII. Tujuan Pengamatan

    ü  Dapat mengetahui prinsip dasar dalam analisa kualitatif kimia organik
    ü  Dapat mengetahui tahapan kerja analisa yang dimulai dengan unsur karbon,hidrogen,belerang,nitrogen,halogen dalam suatu senyawa organik dan penentuan kelas kelarutan nya
    ü  Dapat mencoba beberapa senyawa unknow untuk dianalisa 






    VIII. DATA PENGAMATAN
     Analisis Unsur
    1. Karbon dan hidrogen
    Langkah kerja
    Hasil pengamatan
     Dimasukan 1 gram CuO kering dipanaskan
    Ditambahkan gula
    alirkan pipa (CaCOH)2) lalu dipanaskan
    Tidak terdapat perubahan  namun hanya  kering
    CuO bercampur dengan gula dan meleleh
    Timbul uap dan gas

    2. Halogen
    Langkah kerja
    Hasil pengamatan
    Tes beilstein. panaskan kawat tembaga sampai warna kemerah merahan setelah itu didinginkan dan  tetesi CCl4 , dipijarkan lalu diamati warna nyala
    Warna nyala yang dihasilkan warna orange
    Tes CaO. panaskan CaO didalam  tabung besar , tetesi CCl4 lalu didihkan dengan air suling + HNO3 encer
    Terdapat  bau, kemudian muncul  gelembung disekitar kulit telur dan warna larutan menjadi jernih


    Metode leburan dengan natrium
    1. Belerang
    Langkah kerja
    Hasil pengamatan
    Larutan L (putih telur) ditambahkan asam pekat HCL (diasamkan) ,didihkan lalu  periksa gas dengan kertas saring yang dibasahi dengan Pb asetat 10% + larutan nitroprosside
    Timbul gas dan timbul  bau yang tidak sedap dan gumpalan gumpalan putih


     2. Nitrogen
    Langkah kerja
    Hasil pengmatan
    3 ml larutan L ditambahkan  3 tetes larutan FeSO4 lalu tambahkan 1 tetes FeCl2 lalu tambahkan 5 tetes KF 10%, tambahkan 1-2 ml NaOH 10 % lalu  didihkan
    Asamkan dengan asam sulfat encer
     awalnya larutan berwarna hitam setelah itu berubah menjadi warna  kuning kebeningan dan terdapat endapan yang berwarna biru berlin
     

    3. Halogen
    Langkah kerj
    Hasil pengamatan
    Larutan L (putih telur + HCl) diasamkan dengan HNO3 encer  lalu dihkan untuk menghilangkan HCN atau H2S + AgNO3 encer lalu didihkan lagi
     Diperoleh endapan berwarna  coklat kehitaman yang cukup banyak



    Penentuan kelas kelarutan
     1. Kelarutan dalam air



        Langkah kerja

    Hasil pengamatn
    masukkan 0,1 gram gula  lalu tambahkn  3ml air suling lalu  kocok dengan kuat kuat
    Larutan jernih (+), larut
     Masukan 0,1 gram garam lalu tambahkan  3ml air suling dan  kocok kuat kuat
    Larutan jernih (+), larut
     Masukan 0,1 gram minyak  lalu tambahkan  3ml air suling lalu kocok kuat kuat
    Larutan keruh (-)
     Masukan 0,1 gram tepung  ta,bahkan  3ml air suling lalu kocok kuat kuat
    Larutan keruh(-)

    2. Kelarutan dalam eter

                              Langkah kerja
    Hasil pengamatan
    Dimasukkan 0,1 gram gula tambahkan 3ml eter
     Larutan Jernih (+)
     Masukan 0,1 gram garam tambahkan  3ml eter dan  kocok kuat kuat
     Larutan Jernih (+)
     Masukan 0,1 gram minyak tambahkan  3ml eter, kocok kuat kuat
     Larutan Jernih (+)
     Masukan 0,1 gram tepung tambahkan 3ml eter , kocok kuat kuat
     Larutan Keruh (-)


    3. Kelarutan dalam NaOH 5%

    Langkah kerja
    Hasil pengamatan
    Dimasukkan 0,1 gram gula lalu tambahkan  3ml NaOH 5%
     Larutan Jernih (+)
     Masukan 0,1 gram garam lalu tambahkan  3ml NaOH 5% dan kocok kuat kuat
     Larutan jernih (+)
     Masukan 0,1 gram minyak lalu tambhakan  3ml NaOH 5%, kocok kuat
     Larutan Keruh (-)
     Masukan 0,1 gram tepung  lalu tambahkan 3ml NaOH 5%, kocok kuat
     Larutan Keruh (-)




    4. Kelarutan dalam HCl

    Langkah kerja
    Hasil pengamatan
    Dimasukkan 0,1 gram gula  tambahkan  5ml HCl 5%
    Larutan jernih (+), terasa agak panas
     Masukan 0,1 gram garam tambahkan 3ml HCl 5%, kocok kuat kuat
    Larutan jernih (+)
     Masukan 0,1 gram minyak tambahkan 3ml HCl 5%, kocok kuat
     Larutan Jernih (+)
     Masukan 0,1 gram tepung  tambhakan 3ml HCl 5%, kocok kuat
     Larutan Jernih (+)







    5. Kelarutan dalam NaHCO3 5%



    Langkah kerja
    Hasil pengamatan
    Dimasukkan 0,1 gram gula  tambahkan 3ml NaHCO3 5%
    Timbul gas CO2 (+)
     Masukan 0,1 gram garam tambakan  3ml NaHCO3 5%, kocok kuat
    Tidak Timbul gas CO2 (-)
     Masukan 0,1 gram minyak  tambahkan  3ml NaHCO3 5%, kocok kuat
    Tidak Timbul gas CO2 (-)
     Masukan 0,1 gram tepung  tambahkan  3ml NaHCO35%, kocok kuat
    Tidak Timbul gas CO2 (-)


    6. Kelarutan dalam H2SO4 pekat

    Langkah kerja
    Hasil pengamamatan
    Dimasukkan 0,1 gram gula  tambahkn 3ml H2SO4 pekat kocok
    Larutan jernih (+) tidak berwarna
     Masukan 0,1 gram garam  tambahkan 3ml, H2SO4 pekat kocok kuat
    Larutan jernih (+) tidak berwarna
     Masukan 0,1 gram minyak  tambahkan 3ml, H2SO4 pekat kocok kuat
    Larutan jernih (+) berwarna orange
     Masukan 0,1 gram tepung  tambahkan  3ml, H2SO4 pekat kocok kuat
    Larutan jernih (+) berwarna orange


    7. Kelarutan H3PO4 pekat

    Langkah kerja
    Hasil pengamatan
    Dimasukkan 0,1 gram gula tambahkan  3ml H3PO4 pekat
    Larutan jernih (+)
     Masukan 0,1 gram garam  tambakan 3ml H3PO4 pekat kocok kuat
    Larutan jernih (+)
     Masukan 0,1 gram minyak tambahkan 3ml H3PO4 pekat kocok kuat
    Larutan jernih (+)
     Masukan 0,1 gram tepung tambahkan 3ml H3PO4 pekat kocok kuat
    Larutan jernih (+) tapi timbul endapan

    i

    IX. Pembahasan
     Analisis Organik kualitatif adalah pembelajaran bergerak dalam bidang identifikasi suatu senyawa organik yang tidak diketahui. Suatu percobaan berhasil  dapat ditentukan oleh berbagai  faktor yang erat hubungan nya dengan sifat khusus dari suatu senyawa  dan teknik suatu pola kerja analisa yang sistematik. suatu kerja dalam analisa organik kualitatif  akan meliputi berbagai bidang dalam analisa unsur, sifat unsur, klasifikasi gugus fungsi dengan  cara  identifikasi pada sifat derivatnya ( Tim  penuntun Kimia organik 1,2020 )

     9. 1 . Analisa Unsur 
      1. Hidrogen
          pasa saat melakukan percobaan ini kami melakukan dengan memasukan 1 gr CuO  kering  lalu dipanaskan dan ditambahkan gula dan dialirkan pipa (CaCOH0)2) setelah itu di panaskan sehingga kami mendapatkan hasil tidak terjadi perubahan namun hanya menjadi kering dan larutan CuO bercampur dengan gula dan larutan melele dan menimbulkan  uap  dan gas.
    2. Halogen
      pada melakukan percobaan ini dengan mrnggunakan tes beilstein dengan memanaskan kawat tembaga samai timbul warna kemera-merahan lalu dinginkan  dan ditetesi CCL4 lalu kamimengamati warna nyala sehingga kami mengasilkan warna nyala berwarna orange. sedangkan pada tes CaO terlebih dahulu kami memanaskan CaO dalam tabung besar lalu menetesi CCl4 dan mendidikan air suling dan ditambahkan  HNO3 encer sehingga kami mendaatkan hasil dimana menimbulkan bau, kemudian timbul gelembung di sekitar kulit telur dan warna larutan menjadi jernih.

    9.2. Metode leburan dengan Natrium
        1. belerang
     pada percobaan ini kami menggunakan larutan L ( putih telur ) lalu kami menambahkan asam pekat HCl  lalu didikan dan diperiksa gas melalui kertas saring yang dibasahi dengan Pb asetat 10% lalu kami menambahkan larutan nitroprosside sehingga kami mendapatkan hasil dimana timbul gas  dan timbul bau yang tidak sedap dan gumpalan- gumpalan putih
    2. nitrogen
    pada percobaan ini kami melakukan dengan langkah awal kami memasukan 3 ml larutan L dan menambahkan 3 tetes larutan FeSO4 dan menambahkan 1 tetes FeCl2  dan menambahkan 5 tetes KF sebanyak 10% dan menambahkan 1 ml NaOH 10 % dan mendidikan asam dengan asam sulfat encer sehingga kami mendapkan terjadi perubahan warna yang awalnya larutan berwaarna hiyam lalu berubah menjadi warna kuning kebeningan dan terdapat juga endapan yang berwarna biru berlin

    3. Halogen
     Pada percobaan in i kami menggunakan kami menggunakan larutan L (putih telur+ HCl) dan diasamkan dengan HNO3 encer dan didihkan untuk menghilangkan HCN lalu ditambahkan AgNO3  encer dan didikan lagi sehingga kami mendapatkan hasil terdapat endapan berwarna coklat kehitaman yang cukup banyak


    9.3 Penentuan kelas kelarutan
     1. Kelarutan  dalam air 
     pada percobaan ini yang kami lakukan dengan memasukan 0,1 gr gula dan ditambahkan 3 ml air suling dan dikocok dengan kuat kuat sehingga mendapatkan hasil larutan jernih  ( +)  .Setelah itu  kami memasukan  0,1 gr gram dan  menambahkan 3 ml air suling dan dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+) dal larut. setelah itu kami memasukan 0,1 gr tepung tambahkan air suling dan dikocok dengan kuat sehigga kami mendapatkan hasil  larutannya keruh (-)

    2. Kelarutan eter 
    pada percobaan ini kami memasukan 0,1 gr gula lalu menambahkan  0,1 gr gula lalu menambahkan 3 ml eter kami mendapatkan hasil larutan jernih (+) .Setelah itu kami memasukan 0,1 gr minyak tambahkan 3 ml eter  dan di kocok dengan kuat kuat kami mendapatkan hasil  larutan jernih (+). setelah itu kami memasukan 0,1 minya tambahkan 3 ml eter lalu kocok kuat-kuat mendapatkan hasil larutan jernih (+) .setelah itu memasukan 0,1 gr tepung dan tambahkan 3ml eter lalu dikocok kuat-kuat sehingga mendapatkan hasil larutan keruh (-).

    3. kelarutan dalam NaOH 5 %
     pada percobaan ini kami memasukan 0,1 gr gula lalu menambahkan 3 ml NaOH 5 % dan dikocok kuat kuat mendapatkan hasil larutan jernih.setelah itu memasukan 0,1 gr garam lalu menambahkan 3 ml NaOH 5 % dan dikocok kuat kuat mendapatkan hasil larutan jernih.  setelah itu memasukan 0,1 gr minyak  lalu menambahkan 3 ml NaOH 5 % dan dikocok kuat kuat mendapatkan hasil larutan keruh (-).setelah itu memasukan 0,1 gr tepung   lalu menambahkan 3 ml NaOH 5 % dan dikocok kuat kuat mendapatkan hasil larutan keruh (-).

    4. Kelarutan dalam HCl
    pada per cobaan ini kami memasukan 0,1 gr gula tambahkan 5 ml HCl 5 % sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+) terasa agak panas .memasukan 0,1 gr garam  tambahkan 3 ml HCl 5 % dan kocok dengan kuat sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+) . memasukan 0,1 gr minyak tambahkan 5 ml HCl 5 %  lalu kocok dengan kuat kuat sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+) . memasukan 0,1 gr tepung  tambahkan 5 ml HCl 5 % lalu kocok kuat kuat  sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+)  .

    5. Kelarutan dalam NaHCO3 5 %
      pada percobaan ini kami memasukan 0,1 gr gula tambahkan 3 ml NaHCO3 5 %  dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil timbul gas CO2 (+). setelah itu  memasukan 0,1 gr gula tambahkan 3 ml NaHCO3 5 %  dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil tidak  timbul gas CO2 (-). setelah itu  memasukan 0,1 gr minyak tambahkan 3 ml NaHCO3 5 %  dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil tidak  timbul gas CO2 (-). setelah itu  memasukan 0,1 gr tepung tambahkan 3 ml NaHCO3 5 %  dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil timbul gas CO2 (+).

    6. Kelarutan dalam H2SO4 pekat
    pada per cobaan ini kami memasukan 0,1 gr gula tambahkan 3 ml   H2SO4 pekat dan dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+) tidak  berwarna . setelah itu  memasukan 0,1 gr garam  tambahkan 3 ml   H2SO4 pekat dan dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+) tidak berwarna .  memasukan 0,1 gr minyak tambahkan 3 ml   H2SO4 pekat dan dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+).  memasukan 0,1 gr tepung  tambahkan 3 ml   H2SO4 pekat dan dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+) berwarna orange.

    7. kelarutan H3PO4 pekat 
    pada per cobaan ini kami memasukan 0,1 gr gula tambahkan 3 ml   H3PO4 pekat dan dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+). lalu memasukan 0,1 gr garam  tambahkan 3 ml   H3PO4 pekat dan dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+).memasukan 0,1 gr minyak  tambahkan 3 ml   H3PO4 pekat dan dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+).memasukan 0,1 gr tepung  tambahkan 3 ml   H3PO4 pekat dan dikocok kuat kuat sehingga mendapatkan hasil larutan jernih (+) timbul bau. 








    X. Pertanyaan Pasca

    1. apa kegunaan asam asetat pada percobaan belerang?
    2. mengapa pada pada percobaa halogen pada tes CaO jika tidak terdapat terdapat larutan jernih harus di saring dengan kertas saring? jelaskan!
    3. apa keguaan larutan H2SO4 pada percobaan nitrogen
                    
    XI.Kesimpulan
    adapun kesimpulan dalam melakukan pratikum ini ialah
    1. identifikasi struktur dari suatu senyawa organik dapat dilakukan dengan analisis kualintatif  dengan meraaksikan sampel dengan  pelarut tertentu . Analisis kualintatif ialah suatu analisi kimia yang dapat digunakan untuk apa yang terkandung didalam suatu senyawa organik yang akan dianalisis
    2. ada bentuk diantara analisa  unsur dan tes kelarutan yang dapat dilakukan untuk menguji unsur C, H,N,O,P dan S. sedangkan tes kelarutan untuk menggolongkan senyawa  apa itu dengan melihat bagan
    3.  untuk mengidentifikasikan struktur senyawa organik dilakukan dengan tes nitrogen,belerang, tes hidrogen dan tes kelarutan . dimana tes kelarutan dapat dipengearuhioleh suatu zat, temperatur dan tekanan.

    XII. Manfaat
     Adapun manfaat kami melakukan pratikum ini ialah kami dapat mengetahui dan memahami prinsip dasar dalam menganalisa kualitatif dalam kimia organik dan dapat mengetahui tentang beberapa senyawa unknow yang akan dianalisa.

    vidio pratikum : https://youtu.be/OJCJh4KA4AY

    Daftar Pustaka
    Ganjdar. 2011. Riview, Teknik Peningkatan Kelarutan Obat. Vol 3. No 2. Palembang ; Universitas Sriwijaya.
    Martin, Alfred. 1993. Farmasi Fisik II Dasar-dasar Kimia Fisik dalam Ilmu Kosmetik, Jakarta :           UI Press.
    Tim Kimia Organik. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik 1. Jambi: Universitas
    Tim Kimia Organik. 2020. Penuntun Praktikum Kimia Organik 1. Jambi: Universitas
    http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/22/analisis-kualitatif-senyawa-organik/





    XIV. Lampiran
      

     gambar 1. anggota kelompok 4



    gambar 2. hasil dari analisa pada unsur halogen  dengan menggunakan tes beilstein 

     gambar 3.  Hasil dari analisa unsur halogen dengan menggunakan tes CaO

    gambar 4. Hasil dari Kelarutan gula di dalam air
    gambar 5. bahan-bahan